Tradisi Hindu di Bali

 Tradisi Hindu di Bali

Bali termasuk pulau yang memiliki tradisi unik yang tidak dimiliki oleh pulau lainnya di Indonesia. Pulau Bali mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu. Hindu di Bali memiliki banyak sekali upacara dan tradisi unik. Hindu di Bali sangat erat hubungannya dengan budaya dan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang terdahulu. Tidak jarang wisatawan domestik dan mancanegara yang kagum akan upacara dan tradisi di Bali karena keunikannya. Cara upacara adat agama Hindu bisa diupayakan sesimpel mungkin sesuai dengan kesanggupan, perlu keikhlasan dan kejujuran dalam melaksanakan upacara tersebut, tidak memaksakan diri apalagi hingga menjual tanah warisan leluhur, mencari utang yang akan menjadi beban, apalagi dengan hasil korupsi.

tradisi

Salah satu tradisi pada Hindu di Bali adalah setiap upacara yang diadakan, ibu-ibu yang akan mendatangi Pura selalu membawa Gebogan. Gebogan merupakan suatu bentuk persembahan yang berupa kreasi yang disusun berupa buah-buahan, jajanan dan bunga serta canang di atasnya. Gebogan dibawa dengan cara diletakan di atas kepala ibu-ibu seperti yang terlihat pada foto di atas. Seorang wisatawan mancanegara yang tengah asik bersepeda melintasi kawasan tersebut dengan sigap membidik gambar dengan kamera telepon genggamnya. Dua ibu-ibu yang sedang membawa gebogan menuju pura untuk mengikuti sebuah upacara menjadi objek dalam jepretan kamera. Momen itu menjadi momen yang langka bagi wisatawan mancanegara. Tradisi yang hanya ditemukan di Bali itu akan menjadi sebuah memori yang bagus ketika para wisatawan pulang ke negara asalnya. Selain itu ada kebiasaan memberikan makanan terhadap para tetangga sebagai rasa terima kasih. Nama kebiasaan itu adalah ngejot. Tradisi ngejot dijalankan oleh umat Hindu dan Islam. Umat Islam melaksanakan kebiasaan tersebut ┬ápada saat memasuki hari raya Idul Fitri, sedangkan umat Hindu saat perayaan Galungan, Nyepi, dan Kuningan. Kata “ngejot” sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bali yang memiliki arti “memberi”. Jenis pemberiannya dapat berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan. Nilai antaragama satu dengan yang lain dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus saling meniadakanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *